Ngopi, adalah sebuah kata populer, setidaknya 1 kali dalam 2 hari kita akan dengar kata ini. Dan paling sering kita dengar dalam ajakan bertemu. Kata sebenarnya adalah mengopi yang berarti meminum kopi tapi ada juga yang ketika diajak ngopi malah minta teh manis. Akhirnya kata ngopi jadi punya arti tersendiri, yang lebih sebagai kegiatan sosio kultur.
Ngomong-ngomong soal ngopi dan kopi berikut saya paparkan beberapa cara seduh kopi yang populer yang di beberapa blog/situs menyebutnya sebagai cara yang benar. Saya tidak sependapat jika mengklaim sebagai cara yang benar mengingat tiap orang punya preferensi masing-masing, ya kan...
Adapun tulisan ini berdasar pengalaman pribadi sebagai peminum kopi dan tinggal di daerah penghasil kopi. Serta tentu ditambahkan dari tulisan di blog dan situs. Mengingat tulisan mengenai kopi ini banyak yang sama persis sehingga saya sulit menentukan mana tulisan yang asli dan mana yang salin-tempel (copas) sehingga tak saya sebutkan situs yang menjadi sumber tambahan.
-
Memilih Kopi
Yang pertama dilakukan dalam menyeduh kopi tentu menyiapkan bahan dan alat. Jadi yang pertama dibahas adalah biji kopi. Banyak situs yang mengagungkan beberapa jenis/lokasi penanaman kopi hanya karena mereka berjualan kopi tersebut atau terbawa arus informasi yang salah dari para penjual kopi.
Dalam membeli kopi baik bubuk atau biji matang goreng (tepatnya matang sangrai karena digoreng tanpa minyak) yang perlu diperhatikan hanyalah jenis kopinya, Arabika atau Robusta atau campuran keduanya. Arabika lebih masam dan lebih kuat aromanya ketimbang Robusta. Area penanaman Arabika juga memerlukan ketinggian lebih sehingga otomatis lebih sedikit areanya dan berakibat peredaran kopinya juga lebih kecil sementara permintaan cukup tinggi, hal inilah terutama yang membuat Arabika berharga lebih tinggi. Kopi Arabika dibutuhkan oleh pembuat kopi bubuk dari skala pabrikan hingga rumahan sebagai campuran agar bubuk kopi yang dipasarkan memiliki aroma yang mantap. Jadi meski yang mereka pasarkan lebih banyak Robusta tapi menggunakan sedikit Arabika sebagai pewangi.
Selain jenis tanaman, yang juga perlu diperhatikan adalah "grade" biji kopi dan hal ini tak akan nampak jika anda membeli bubuk. Dalam hal grade, Robusta grade terbaik menurut saya mempunyai rasa dan aroma yang lebih baik ketimbang Arabika grade asalan. Sayangnya yang banyak dipasarkan adalah Robusta grade asalan minus sebagai hasil panen kopi serabutan yang lebih banyak biji kopi muda padahal standar grade asalan adalah hanya 20-30% biji kopi muda. Biji kopi semakin tua semakin kecil semakin padat dan anda bisa memperhatikan biji-biji kopi matang goreng/sangrai sebelum membeli. Cara dan alat penggorengan juga menentukan hasil kopinya namun pada umumnya penggoreng menggunakan wajan terakota/keramik/kaca dengan api dari kayu/arang untuk hasil terbaik atau menggunakan pasir sebagai tambahan jika menggunakan wajan metal dan kompor gas. Sehingga hasil gorengan rata-rata sama. Tinggal memilih tingkat kematangan, sebaiknya pilih yang tidak terlalu gosong/hitam.
Pilihlah biji-biji yang nampak padat dan berwarna coklat tua. Itu adalah kopi matang sangrai terbaik.
Jika anda tak menemukan penjual kopi biji matang dan terpaksa membeli kopi bubuk, belilah yang dalam kemasan kecil, kira-kira dari 1 kemasan bakal habis dalam 3-4 hari. Kalau untuk stok 1 bulan, beli saja 9-10 kemasan kecil. Kopi bubuk akan hilang aromanya setelah terbuka kemasannya dalam waktu 4-5 hari dengan asumsi sejak digiling di pabrik hingga masuk kedalam kemasan memakan waktu maksimal 1 hari.
Mengenai kopi bubuk, kebanyakan produsen mencampurkan bahan bukan kopi didalamnya. Mudah saja melihatnya, jika anda seduh dengan proses kopi tubruk, bagian yang tetap mengapung adalah bukan kopi. Ada beberapa produsen mencantumkan komposisi tapi lebih banyak yang menyebut 100% kopi. Jika benar 100% pun kemungkinan lebih dari 20% berupa biji muda dan bagi saya itu bukan kopi yang sesungguhnya.
-
Menyeduh Kopi Secara Tradisionil
Kopi Tubruk
Ada banyak alat bantu menyeduh kopi dari yang manual hingga otomatis bahkan hingga berbagai varian minuman kopi seperti kapucino dlsb. Yang paling populer di Indonesia tentu saja Kopi Tubruk, ini yang kita bahas pertama kali.
Panaskan air dengan panci terbuka, sambil menunggu mendidih,
Siapkan biji kopi dan giling/tumbuk hingga halus sekali, setiap cangkir membutuhkan kira-kira 12-15 gram biji kopi.
Siapkan cangkir dan masukan kopi yang telah menjadi bubuk sebanyak 2 sendok teh munjung (lebih dari penuh) atau jika punya timbangan silahkan gunakan 12-14 gram kopi bubuk.
Matikan api ketika air mendidih, tunggu 1-2 menit agar panasnya turun sedikit, panas air yang baik untuk menyeduh dengan metode kopi tubruk adalah 85-95 derajat celcius. Suhu optimal adalah 92*C.
Tuang air yang suhunya telah turun sedikit dari titik didih tadi ke cangkir sembari mengarahkan tuangan air ke seluruh penjuru cangkir. Maksudnya agar kopi pecah aroma berbarengan,yang membuat aroma lebih keluar.
Setelah air panas dituang segera tutup cangkir/gelas dan biarkan 3-4 menit. Setelah itu baru tambahkan gula jika mau atau langsung aduk kopi dan siap dinikmati.
Tips:
Gunakan air yang tidak ada “rasa”-nya. Jika air tanah yang biasa anda minum memiliki rasa seperti agak payau jika anda tinggal didekat pantai atau berbau tanah jika lokasi sumur bekas areal persawahan dan rasa lain yang sering timbul pada air, maka gunakan saja AMDK (air minum dalam kemasan). Tapi jangan menggunakan air suling karena mineral dalam air sudah hilang sama sekali.
Air yang terlalu panas mengakibatkan kopi terlalu pahit dan air yang kurang dari 85 derajat membuat ekstrak kopi tidak maksimal kecuali menggunakan alat seduh yang didesain untuk panas air kurang dari 85*C.
Yang perlu diingat, jangan ada sendok di cangkir ketika menuangkan air panas. Hal itu akan mengurangi kematangan seduhan karena sendok metal akan menyerap panas air lebih dulu.
Jika gula sudah terlanjur masuk di cangkir sebelum kopi diseduh, aduklah agar gula dan kopi tercampur merata sebelum diseduh.
Sebaiknya gula tidak lebih banyak dari kopi bubuk atau minimal sama dengan volume kopi.
Kalau kopi anda sudah dingin, jangan dipanaskan, minumlah dengan kondisi dingin akan lebih baik daripada dipanaskan lagi. Dan jangan menaruh kopi anda di gelas/tempat berpemanas seperti food warmer atau mugwarmer tapi boleh anda taruh di thermos.
Kopi yang terlalu lama dipanaskan akan semakin pahit dan kehilangan cita rasa kopi yang sebenarnya.
Kopi anda adalah selera pribadi. Jadi jika ingin menikmati kopi yang sesuai dengan personal taste, ukur sendiri takaran kopi dan air yang kamu inginkan. Biasanya 10 – 14 gram bubuk kopi untuk 250 cc air. Jika kamu menginginkan rasa yang lebih kuat mungkin kamu bisa menambahkan kopinya atau mengurangi air. Bereksperimenlah dengan rasa. Hal ini juga berlaku jika anda menggunakan alat seduh.
Menyeduh Sekaligus Banyak
Kadang kita ingin menyajikan kopi sekaligus lebih dari 6 porsi/cangkir. Atau ketika berkemah ada acara ngopi bersama. Dan biasanya mengambil ringkas langsung saja merebus kopi dalam panci. Tidak salah jika kopi yang digunakan kopi kampung ala jawa (saya sebut demikian karena kopi kampung ini biasa dijual di Jawa atau lingkungan orang asal Jawa). Biasanya hanya mengandung 50% kopi dan sisanya bisa jagung atau beras yang disangrai hingga gosong seperti kopi.
Namun jika yang digunakan adalah kopi asli maka hasilnya bakal mengecewakan. Sebaiknya gunakan 2 buah panci, satu untuk merebus air dan 1 lagi untuk menyeduh kopi. Jika hanya ada 1 panci, gunakan ember sebagai tempat menyeduh kopi. Kopi akan lebih mantap jika disiram air panas, bukan dengan mencemplungkan kopi ke air panas, itu sebabnya perlu 2 tempat. Kalau tidak punya tempat yang sama besar, bisa pindahkan dulu air yang telah direbus ke tempat2 lebih kecil, gelas atau kaleng misalnya. Kemudian panci bisa dijadikan tempat menyeduh.
Cara dan ukuran seperti dengan metode tubruk. Sesuaikan saja jumlahnya. Terakhir, cemplungkan isi durian matang kedalam kopi yang telah jadi. Anda akan mendapatkan rasa kopi yang luar biasa. Kopi durian adalah minuman khas Lampung.
Daripada dicemplungin arang membara, jauh lebih nikmat dikasih durian. Sensasinya dapat dan rasanya semakin mantap. Silahkan mencoba... *Kopi Durian juga bisa dibuat untuk 1 cangkir, yang paling penting adalah cemplungkan durian atau tambahan lain setelah kopi siap minum, dalam hal metode tubruk adalah 3-4 menit setelah kopi disiram air panas.
Metode Pour Over
Metode ini mirip dengan Kopi Tubruk hanya saja menggunakan alat tambahan berupa filter terbuat dari kertas dan corong. Ada corong khusus untuk ini namun bisa menggunakan corong biasa dan akan lebih bagus terbuat dari plat alumunium tapi corong plastik yang saat ini lebih mudah didapat di toko kelontong juga berfungsi dengan baik. Ukuran corong harus sebesar filter yang dijual khusus untuk kopi.
Seperti juga metode kopi tubruk, air yang digunakan haruslah bersih dan tidak berbau serta berasa.
Panaskan air, jika air yang digunakan adalah air matang atau AMDK maka cukup panaskan air hingga timbul gelembung awal sebelum mendidih. Dan sembari menunggu air memanas;
Siapkan kopi, yang dibutuhkan adalah kopi yang digiling kasar, lebih kasar dari lubang filter. Hal ini dimaksudkan agar aliran air tidak terhambat. Besar butiran kopi ini biasa disebut medium.
Siapkan cangkir dan corong kemudian letakan filter diatas corong. Dan cangkir saji dibawah corong.
Ketika air telah timbul gelembung awal, siramkan sedikit saja hanya untuk membasahi filter. Dimaksudkan agar bau kertas pada filter berkurang. Jerang kembali air dengan api sangat kecil.
Tuangkan bubuk kopi secara merata diatas filter tapi jangan dipadatkan.
Angkat kembali air dari kompor (suhu sekitar 92*C) dan tuangkan secara merata agar semua kopi terendam dan timbul busa. Jika menggunakan air mentah maka biarkan air mendidih dulu kemudian matikan api dan tunggu 1-2 menit. Air yang telah terinfus dengan kopi akan mengalir ke bawah melalui corong ke gelas/cangkir saji. Lanjutkan tuang air hingga cangkir saji terisi maksimal.
Hasil kopi dari metode ini tidak sepahit kopi tubruk karena bubuk yang lebih kasar dan kontak kopi dengan air hanya selintas saja.
Angkat corong dan biarkan 2 menit maka kopi anda siap dinikmati atau ditambahkan gula, duren dll jika suka.
Seduh Dingin
Ini adalah metode yang paling tidak populer tapi wajib dicoba jika kopi seduh biasa membuat lambung anda terganggu.
Siapkan air biasa dengan suhu sekitar 25*C, jika anda tinggal di daerah pegunungan yang bersuhu rendah, gunakan air hangat kuku 40-50*C. Kopi yang digunakan adalah yang sedikit lebih kasar dari yang biasa dijual umum atau biasa disebut medium fine. Kopi Lampung cap Bola Dunia yang kasarnya pas untuk metode ini.
Siapkan tabung dengan penutup yang rapat, bisa menggunakan bekas toples selai dll.
Masukan kopi sebanyak 2 sendok teh penuh (kira-kira 12 gram) ke tabung dan siramkan air secara merata. Sedikit saja hingga kopi basah keseluruhan. Biarkan 1-2 menit kemudian tambahkan air secangkir dan tutup rapat tabung. Atau sesuaikan perbandingan antara kopi dan air jika ingin membuat beberapa porsi. Biarkan minimal 10 jam, waktu optimal adalah 11 jam.
Setelah 10-12 jam buka penutup tabung dan tuang kopi ke cangkir dengan saringan agar tak banyak bubuk kopi yang ikut masuk ke cangkir saji. Saringan adalah hal penting mengingat rasa bubuk kopinya aneh dan asam jika terkunyah di mulut.
Jika anda mau minum kopi dipagi hari, maka siapkan kopi ini sore hari sebelumnya.
Untuk kopi ini sebaiknya campurkan dengan sirup gula atau kinca (gula aren yang dicairkan). Atau madu. Dan jangan dengan gula pasir.
Rasa kopi dengan metode ini lebih pahit dari kopi tubruk tapi lebih ringan kafein dan asamnya. Berbeda dengan kopi putih (white coffee) yang juga tidak asam tapi kuat kafein.
Menggunakan Alat Seduh
Sekarang sudah banyak dijual alat seduh kopi dari yang modern dan otomatis hingga semi tradisionil yang manual. Untuk menggunakan alat seduh sudah ada aturan baku yang menyertainya. Yang perlu diperhatikan adalah ukuran bubuk kopi, setiap alat mempunyai preferensi sendiri. Ada yang perlu bubuk kasar dan medium adapula yang medium fine (tidak terlalu halus) bahkan ada yang lebih baik dengan bubuk sangat kasar, biji kopi hanya perlu digeprek 2-3 kali hingga menjadi pecahan sebesar pentol korek api.
Ada banyak alat seduh dan variannya, saya hanya menuliskan alat seduh yang pernah saya coba dan saya kuasai.
Dripper
Alat yang nampak paling tradisionil adalah Dripper yang biasa digunakan di Indochina hingga lebih sering disebut sebagai “Vietnam Drip”. Alat sederhana ini berbentuk cangkir namun sisi bawahnya bolong-bolong dan ditempatkan diatas cangkir saji yang sebaiknya terbuat dari kaca/gelas bening. Sesuai namanya, alat ini menggunakan prinsip drip atau tetesan. Bubuk Kopi ditaruh dialat ini kemudian letakan cangkir saji dibawah alat dan tuangkan air panas (90-96*C) kedalam alat dan biarkan cairan kopi menetes ke cangkir saji dibawahnya. Memakan waktu yang cukup lama agar kopi siap diminum, lebih kurang 5 menit. Sehingga di banyak warung di Vietnam disajikan berikut alatnya dan konsumen harus menanti hingga waktunya meminum. Umumnya diminum dengan tambahan susu kental manis yang dituang di cangkir saji sebelum di tetesi kopi. Hasil kopi dengan metode ini lebih terasa pahitnya ketimbang asamnya namun lebih ringan dibanding dengan metode tubruk. Dengan menggunakan kopi matang sedang (medium roast) adalah hasil terbaik dan bubuk kasar (medium coarse).
Moka Pot
Alat yang banyak digunakan di negeri-negeri Eropa terutama Italia adalah sebuah bejana berhubungan atas dan bawah. Dibagian paling bawah dimasukan air dan diatasnya menggunakan sebuah tatakan berlubang ditaruh kopi bubuk. Kemudian ditutup rapat dengan bejana bagian atas yang nantinya adalah tempat cairan kopi yang telah jadi. Kemudian bejana bagian bawah dipanaskan diatas kompor/tungku hingga air mengalir melalui kopi dan terus naik hingga bejana atas. Hasil minuman kopi dari alat ini kental, hampir menyerupai espresso. Bubuk kopi yang digunakan yang berukuran sedikit lebih besar dari lubang-lubang saringan/filter pada alat ini. Tiap merk punya lubang-lubang yang berbeda, nampaknya. Namun bisa juga digunakan dengan bubuk kopi paling halus seperti dijual umum untuk kopi tubruk hanya saja kopi halus ini akan ikut terangkat ke bejana atas tempat cairan kopi siap tuang ke cangkir saji.
Banyaknya volume kopi kira-kira 15 gram untuk 200 ml liter air.
French Press/Plunger
Alat ini juga sudah cukup tua dan sebagaimana namanya banyak digunakan oleh orang di Perancis. Prinsipnya mirip dengan Dripper hanya saja ini tidak menunggu tetesan tetapi ditekan sehingga lebih cepat penyajiannya ketimbang Vietnam Drip. Kemungkinan Vietnam Drip dibuat mencontoh alat ini dengan maksud sebagai metode yang lebih sederhana mengingat dahulu wilayah Indochina adalah jajahan Perancis. Hasil minuman kopi dari kedua alat ini sangat mirip.
Aero Press
Alat ini adalah pengembangan dari French Press, prosesnya sangat mirip dengan Dripper tapi dibantu dengan penekanan sehingga menetes lebih cepat. Alat ini sangat portabel hingga bisa menyeduh kopi dimanapun anda mau. Juga tidak membutuhkan air yang terlalu panas, dengan ditemani thermos sudah cukup untuk memamerkan kehebatan anda menyeduh kopi. Alat ini juga tidak ada resep baku cara membuatnya, banyak cara dan resep bisa dilakukan dengan alat ini sehingga ada kontes khusus untuk menyeduh kopi dengan alat ini.
Espresso Manual
Alat ini digunakan untuk membuat kopi paling kental dan menjadi biang dari berbagai bentuk penyajian kopi yang umum dijual di cafe/kopi tiam sekarang ini. Tapi kebanyakan cafe saat ini menggunakan Espresso Machine otomatis bertenaga listrik. Meski metodenya juga dengan menekan (press) alat ini namun hasil minuman kopinya jauh berbeda dengan French Press.
Berikut gambar cara menggunakan espresso manual yang saya ambil dari website kopikopen.com
Gambar espresso manual
Mesin Espresso
Cara menggunakan mesin ini sangat baku sesuai petunjuk manual alat, agak sulit untuk berinovasi menggunakan alat ini. Kebanyakan kopi maka saringan akan macet, terlalu sedikit kopi maka hasilnya kurang terasa. Lagipula mesin ini terlalu mahal untuk digunakan di rumah.
Syphon
Alat ini juga terdiri dari 2 bejana, namun umumnya terbuat dari bahan gelas/kaca berbeda dengan Moka Pot yang dari metal. Kompor yang digunakan pun khusus, mirip kompor pemanas makanan yang dinyalakan dengan spiritus. Saya belum pernah mencoba namun pernah disajikan kopi dengan metode yang dipertontonkan ini disebuah mall.
Mudah saja caranya namun perlu hati-hati mengingat alat ini terbuat dari kaca dan berbentuk bulat.
Isikan air panas thermos (suhu sekitar 75*C) ke bejana bawah (air thermos dimaksudkan agar proses tak terlalu lama). Pasang filter dan katup di bejana atas. Sambungkan kedua bejana diatas dudukan alat. Tuangkan kopi bubuk ke bejana atas. Siapkan dan nyalakan kompor mini kemudian letakkan dibawah bejana bawah. Ketika air mendidih akan terdorong naik ke bejana atas dan bercampur dengan kopi. Setelah semua air naik keatas kecilkan api dan aduk campuran kopi di bejana atas. Selesai mengaduk matikan api. Air yang telah terinfus kopi akan mengalir kebawah lagi. Setelah semua air kembali ke bawah maka kopi anda siap dituang ke cangkir saji.
Ukuran banyaknya bubuk kopi kira-kira 12 gram (2 sendok teh penuh) untuk 200 ml air.
Masih ada beberapa cara menyeduh kopi menggunakan alat-alat lain namun saya belum pernah mencobanya sehingga tidak mau sekedar salin-tempel tulisan orang tanpa pernah mempraktekan. Mengenai cara menggunakan alat-alat ini secara lebih rinci, silahkan ke website penjual peralatan kopi ini saja: Teknik Menyeduh Kopi atau Cara Menyeduh Kopi atau Tips Seduh Kopi
Cara Meminum Kopi
Cara meminum kopi yang saya suka adalah menyiapkan sejumput gula aren dan biarkan kopi tanpa gula. Sruput kopi dan lanjut dengan mengambil sejumput gula aren untuk dikecap demi menghilangkan rasa pahit dari kopi. Buat saya meminum kopi seperti ini apalagi kopi espresso atau hasil moka pot, sangat nikmat dan dua kali lipat menambah semangat. Ada pula yang menghilangkan pahit kopi di lidah dengan cemilan manis. Atau dengan coklat batangan. Pada dasarnya biarkan kopi anda tanpa gula jika ingin menikmati kopi sebenarnya.
Tapi jika hanya ingin menunda kantuk dan mendapat semangat tambahan, minum saja kopi sebagaimana anda suka biasanya. Jangan biarkan orang lain mempengaruhi cara minum kopi yang sudah anda anggap nikmat selama ini.
Jika di warung kopi biasa, saya hanya memesan kopi beton yang maksudnya campuran bubuk kopi dan gula sama banyak volumenya.
Penutup
Jika anda tertarik menggunakan alat seduh, Syphon adalah alat yang paling unik apalagi jika dipajang di dapur atau mini bar. Sementara Vietnam Drip adalah alat paling simple dan murah, bahkan ada yang menjualnya dibawah Rp.50.000,- per unit atau French Press jika ingin lebih cepat hasilnya, French Press juga tidak terlalu mahal. Dan Moka Pot adalah alat pilihan saya karena menghasilkan kopi yang paling enak dengan simplisitas dan harga alat yang murah, hasil kopi moka pot juga bisa dikreasikan menjadi kapucino atau latte dlsb seperti espresso.
Pada level selanjutnya anda harus memikirkan untuk memiliki alat penggiling sendiri. Dan pada level diatasnya adalah membeli alat penggoreng kopi yang juga sudah dijual versi ringkasnya. Dan terakhir, ada baiknya anda membeli kebun kopi sekalian :D kemudian memelihara musang dan menghasilkan kopi luwak... hehehe
Menanam beberapa pohon kopi sendiri juga bukan ide buruk, jika anda tinggal di daerah berketinggian lebih dari seratus meter (100m) dpl seperti daerah Bogor bisa mencoba menanam Robusta. Sebagai informasi, harum bunga kopi saat bermekaran di pagi hari jauh lebih wangi dari bunga hias manapun, tercium hingga jarak puluhan meter, artinya anda bakal menebarkan wewangian ke seluruh kompleks rumah :D. Yang bisa menyaingi hanya bunga Wijaya Kusuma nan legendaris itu, bedanya bunga kopi mekar di pagi hari saat orang sudah bangun.
Beberapa situs mengenai menyeduh kopi yang perlu anda baca:
Penggunaan Kopi Lampung adalah rahasia nikmatnya es kopi di kedai Tak Kie
http://lifestyle.okezone.com/read/2015/08/06/298/1191820/brown-sugar-cocok-sebagai-pemanis-minuman-kopi
http://kopikopen.com/2015/06/cara-menyeduh-kopi/
http://www.ottencoffee.co.id/majalah/cara-menyeduh-kopi-yang-benar/
http://www.ottencoffee.co.id/majalah/category/brewing-method/
http://www.kopijavalorek.com/2012/06/tip-seduh.html
Resep Ekstra:
Untuk menemani minum kopi silahkan coba resep cemilan yang mudah dibuat berikut ini.
Colenak Karamel
Colenak adalah makanan khas Parahyangan. Bahan dasarnya peyeum sampeu alias tape singkong.
Cara membuat colenak tradisionil, mudah sekali tapi memerlukan pemanggang dengan arang.
Tape dipanggang kemudian ditaburi parutan kelapa remaja (tidak tua dan tidak muda/dugan) dan terakhir disiram kinca atau gula merah yang dicairkan.
Untuk resep kali ini saya modifikasi agar bisa dibuat di rumah tanpa perlu repot menyalakan arang. Cukup sediakan wajan berdasar rata (lebih baik jika dilapisi teflon atau lapisan anti lengket lain). Panaskan wajan kemudian beri sedikit margarin dan lebih mantap lagi jika menggunakan non salted butter. Setelah margarin/butter mencair, ratakan ke seluruh permukaan wajan yang rata. Masukan potongan tape yang telah dipipihkan ke wajan dan balik ketika bagian bawah telah kecoklatan. Angkat tape jika kedua bagian sudah kecoklatan, tapi untuk tape yang agak basah dan lembek perlu sedikit menggosong agar tape lebih kering.
Susun tape satu lapis diatas piring kecil. Parut kelapa remaja diatasnya. Atau bisa juga keju cheddar.
Buat karamel dengan memasukan sedikit (setengah hingga 1 sendok teh) margarin/butter ke wajan kecil, panaskan hingga meleleh dan tambahkan gula pasir minimal 2 sendok makan. Aduk terus gula hingga mencair dan berubah warna menjadi kuning tua. Jika mulai menjadi coklat segera angkat dari api (jangan tunggu menjadi berwarna coklat semua karena artinya telah gosong). Siramkan merata keatas tape dan parutan kelapa/keju kala karamel masih cair . Sebaiknya jangan teralu banyak membuat karamel karena hanya bisa dipakai saat cair, sementara jika sebentar saja diangkat dari api akan mulai mengeras menjadi permen. Penambahan margarin/butter agar karamel tidak terlalu keras digigit ketika telah dingin.
Catatan:
Semua resep telah dicoba di dapur.
Jumat, 18 Maret 2016
Minggu, 19 Oktober 2014
Catatan Ringkas Pagaralam Solorun
Ringkasan Perjalanan Pagaralam Solorun
· Pra Etape, Penengahan(rumah) – Bandarlampung 69km. Jam 9.10 - 10.40
Jika dihitung jarak dari Pelabuhan Bakauheni ke Bandarlampung: 98Km; Isi bensin full tank di SPBU Kekiling (SiangMalam) Pertamax 3,5 liter = Rp.44.000; Mizone Rp.6.500.
Cerita pembuka klik disini
· Etape 1, Bandarlampung – Kota Agung 96km. Jam 11.50 – 13.10 dan 13.45 – 14.20
Bdl-Prs 41km; Makan di Pringsewu Rp.16.000; Bensin di KotaAgung premium Rp.15.000,-; Aqua dan snack Rp.12.500 plus parkir, minimart disini ada tukang parkirnya.
· Etape 2, Kota Agung – kota kecamatan Bengkunat 95km. Jam 14.45 – 16.15
Tambah bensin hingga full di SPBU KotaAgung 2, Pertamax Rp.17.000; Ambil foto di tanjakan Sedayu; Balapan dengan hujan, sejak masuk hutan TNBBS sektor Sedayu sudah nampak mendung menghitam, sampai Bengkunat hujan tertinggal di belakang sekitar 2-3 menit; Aqua dan snack Rp.10.000,-; Hujan gerimis hingga jam 16.40.
![]() |
| hanya beginilah saya mencatat perjalanan |
· Etape 3, Bengkunat – Krui 56km. Jam 16.45 – 18.40
Hujan gerimis besar, terpaksa stop di depan Pura Melasti sekitar Way Jambu menjelang Biha, menunggu hujan sambil melihat kemungkinan ambil foto sunset di Pura; Pakai jas dan celana hujan, lanjut trabas gerimis; Isi full di SPBU Lintik (Krui 2) Pertamax Rp.43.000; Makan di Krui kota Rp.20.000; Hujan membesar ditunggu reda; Jam 20.05 hujan reda.
· Etape 4, Krui – Merpas 82km. Jam 20.10 – 22.35
Jalan sebagian besar berliku tajam dan sebagian kecil rusak parah; Gelap jadi tak bisa kencang atau jika dipaksakan kemungkinan besar terjun ke jurang dengan laut sebagai dasarnya; Istirahat sebentar di minimart paling ujung BaratLaut di Lampung, kec Pugung; Aqua dan snack Rp.12.000; Melewati hutan TNBBS sektor Lemong sendiri, sepanjang 25an km hanya berpapasan sekali dan 2 kali menyalip kendaraan lain; Mulai terasa linu di dengkul karena celana agak basah tersiram gerimis dari Bengkunat hingga Pura Melasti.
· Istirahat di Merpas 2 hari 3 malam sekalian meredakan linu di dengkul dan pinggang, baru sadar umur sudah mendekati separuh abad
Cerita Hari Pertama klik disini
· Etape 5, Merpas – Manna 104km. Jam 10.25 – 12.20
Sengaja berangkat agak siang dengan mensimulasikan bahwa baru tiba di Merpas malam sebelumnya dengan kemungkinan bangun kesiangan; Jalan mulus dan lebar, sedikit tikungan; Isi bensin full di SPBU Maje (Bintuhan 2), Pertamax Rp.42.000; Ambil foto di Kaur Tengah; Makan di simpang Rukis, Manna Rp.20.000; Ambil foto kota Manna.
· Etape 6, Manna – Tugu Rimau, Pagaralam 103km. Jam 13.15 – 14.25 dan 14.55 – 17.50
Isi bensin Pertamax Rp 33.000; Ketemu gereja di tepi jalan di pedesaan diluar kota Manna adalah suatu hal yang cukup aneh karena di jalur Manna-Pagaralam hampir tidak ada transmigran, bisa dikatakan semua adalah penduduk asli; Hampir sepanjang jalur ini bersisian dengan sungai/air Manna; 30 menit istirahat di air terjun Luguran yang sudah menjadi tujuan wisata bagi penduduk kota Manna, berada tepat disisi jalan Manna-PgA; Mendapat cerita memang ada penduduk asli beragama Protestan sejak 1965; Ngopi asli Rp4.000; Bertemu penggemar memancing, joran dan reel sudah cukup berkualitas, memancing di sebuah lubuk di aiie Manna di wilayah SumSel (Tanjung Sakti), ikan target: Hampala; Mendaki menuju ketinggian 1900 meter dpl; Ngopi sachetan dan snack Rp.6000 di tugu Rimau.
Cerita mengenai Manna-Pagaralam disini
· Istirahat mencari penginapan turun dari tugu Rimau jam 18.35; Ambil foto Pagaralam dari atas saat malam; Sebelum ke hotel, makan di Simpang Petani, RM Dua Putra, makanan enak dan ternyata orang Jawa tapi Jawa Lampung, Rp.16.000; Minimart aqua Asti; Dapat saran Mirasa Hotel, sedikit keluar dari kepadatan pasar arah ke Kepahyang. Hotel pelit, ngasih breakfast cuma setengah porsi dan kopi encer, tarif termurah Rp.130.000; Ada hotel lain yang lebih murah tapi kurang nyaman karena ditengah padatnya pasar; Villa di jalan menuju tugu Rimau paling murah 120ribu tapi penuh; Banyak hotel baru juga; Sarapan siang plus kopi kental di DuaPutra lagi, Rp.20.000; Ketemu becak motor Verza; Berbincang dengan staf media lokal, Pagaralam Pos tentang kotanya; Keliling kota, pabrik teh, titik loncat paralayang dan area pendaratan; Total jarak ditempuh dari tugu Rimau ke kompleks pemkot 14 km, keliling kota 34 km; Masih banyak kebun kopi ditengah areal perkotaan; Jam 11.25 baru start etape selanjutnya dari SPBU simpang Manna yang kebetulan pertamax-nya sedang habis.https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pagar_Alam
· Etape 7, Pagaralam – Baturaja 170 km. Jam 11.25 – 14.30 dan 15.30 – 16.55
Seharusnya etape ini dibagi menjadi 2: Pagaralam – Semende DL dan Semende DL – Baturaja; Arah keluar kota menuju simpang Jarai, di papan petunjuk jalan tertulis arah Lahat atau Palembang; SPBU Lematang (Pagaralam 2) di jalan itu ternyata sama saja pertamax kosong dan premium antri panjaaang sama dengan di SPBU 1; Beli bensin eceran premium Rp.16.000 > 2 liter; Ambil foto di batas kota yang juga merupakan tempat kejadian perang mempertahankan kemerdekaan paling seru di SumSel; Masuk jalan pintas yang sempit di Simpang Jarai; Mulak Ulu; Semende Darat Laut; Warung Ponorogo hanya beli bensin eceran 1 liter Rp.10.000 bonus permen 6 buah; Ambil foto air terjun Tenang; Masuk ke lokasi wisata Curup Tenang Rp.15.000, Teh Botol es Rp.6.000; Simpang Meo; Beli bensin eceran lagi di Singapura Baturaja 1 liter Rp.8.000; SPBU Baturaja isi full pertamax Rp.34.000.
Cerita mengenai begal di Jalinsum klik ini
· Etape 8, Baturaja – Bandarjaya 214km. Jam 17.25 – 20.00 dan 7.10 – 9.10
Seharusnya ini dibagi 2 juga, Baturaja – Baradatu dan Baradatu – Bandarjaya;
Istirahat di pusat kota Baturaja, es kacang merah dan 2 pempek ada’an Rp.11.000; Tak berlama-lama di Baturaja karena balapan dengan waktu operasi begal; Maghrib di Martapura, labas; Minimart simpang Baradatu aqua Rp.2.000; Makan Rp.26.000 di Jalinsum semua lebih mahal dibanding Jalinbar; Tak berani terus karena sudah menjelang waktu begal beroperasi dan Nex meski paling kencang diantara matic 110 lain tetap bukan lawan MX, FU atau King tunggangan para kriminil; Cari penginapan di Baradatu jalan perlahan-lahan, tak ketemu karena mati listrik; Bukit Kemuning dapat hotel sederhana Rp.75.000; Hotel Murni ternyata lebih pelit dibanding Mirasa di Pagaralam, minta air panas segelas saja tak dikasih, sudah beli kopi sachet dan energen plus roti Rp.12.000. Ngopi subuh jalan kaki dulu ke pasar 400 meter Rp.3000; Lanjut perjalanan jam 7.10; Isi Bensin di SPBU Bukit Kemuning full tank premium Rp.24.000, duit menipis tak berani beli pertamax lagi; Aqua Rp.2000; Stop sebentar di Kotabumi; Tarik gas pol karena janji dengan sohib di Banjay jam 9; Finish etape 8 jam 9.10.
· Etape 9, Bandarjaya – rumah di Penengahan LamSel 131km atau jika ke Bakauheni 151 km.
Tempat rendevouz, parkiran Mesjid Agung Banjay ternyata panas tersorot mentari; Geser ke RM Minang Indah persis disebelah Utara Mesjid, sarapan siang, makanan enak tapi mahal Rp.36.000, halaaah anggaran cuma sisa Rp.64.000 plus recehan; Yang janjian tak menampakan batang hidungnya, dasar legislatif sering lupa dengan janji kampanye; Isi bensin full tank premium SPBU Natar Rp.24.000 (lupa tepatnya, nggak tercatat); Singgah di rumah saudara, istri lagi menginap di Bandarlampung; Karena sudah jadwal servis gratis, singgah di Suzuki Center, servis & ganti oli; Makan siang kesorean di kota Kalianda, mi pangsit plus teh botol Rp.20.000.
· Total 69 + 96 + 95 + 56 + 82 + 104 + 101 + 170 + 214 + 131 = 1118 kilometer
Pengeluaran lain-lain: Rp.18.000 x 6; Rp.35.000 celdal; Rp.67.000 gunting kuku, tissue basah, masker dlsb
| kota Pagaralam, masih dipenuhi bangunan khas Sumatera Selatan |
· Peta silahkan klik link ini: https://www.google.co.id/maps/ms?msi...76204,2.535095
Ditambah keliling kota Pagaralam dan mencari lokasi foto sekitar 100km. Perjalanan kali ini mencapai 1200 kilometer.
Cerita penuh disini
Pagaralam Solorun bagian keempat - habis
Istirahat,
Satu Malam di Pagaralam
Kemungkinan
waktu maghrib disitu adalah sekitar jam 18.30 WIB, sembari menunggu saya pesan
kopi sachet-an. Tadi sore sudah menenggak kopi kental sehingga saya tak berani
menambah kopi khas daerah pegunungan Sumatera lagi. Kuatir hipertensi menjelang
dan stroke yang sempat saya alami beberapa tahun sebelum ini bakal menghantui
perjalanan. Kemarin di Merpas sempat merasakan pening akibat menyantap sop
kambing hasil pembagian kurban, berhasil saya redam dengan meminum habbatussauda
kapsulan yang memang saya siapkan dari rumah. Seandainya jika tak juga hilang
rasa pening akan saya telan juga simvastatin dan captopril yang juga siap di
tas pinggang. Alhamdulillah dengan habbatussauda sudah cukup.
Mengenai
keindahan alam di Pagaralam, lihat sendiri deh, capek tangan mengetik. Tak akan cukup sepuluh halaman untuk
mendeskripsikan keindahan Pagaralam dengan gunung Dempo-nya. Kamera secanggih
apapun dengan keahlian memotret luar biasa juga tak mampu memberikan gambaran
menyeluruh, apalagi saya yang newbie
dibidang fotografi digital.
Mengenai
persenjataan, kamera prosumer saya anggap cukup mumpuni untuk sekedar mengabadikan
dan menambah aksen fotografi. Apalagi jika hanya menggunakan sepeda motor,
bakal direpotkan membawa DSLR murni atau mirrorless dengan berbagai lensanya,
ditambah kekuatiran akan terjadi sesuatu jika jatuh karena harga lensa ada yang
jauh lebih mahal dari kameranya.
Kecuali anda
adalah fotografer profesional maka prosumer sudah lebih dari cukup. Bahkan DSLR
antik Canon 450D yang sempat dimiliki sudah saya jual. Saya pilih Fuji HSX
series karena diujung lensa tetap-nya masih bisa dipasangkan filter berukuran
diameter 58mm, bisa CPL atau ND dlsb. Tak ada prosumer lain yang bisa seperti
ini, aksen fotografi bisa dikreasikan dengan kamera tak terlalu mahal ini. Saya
pilih tipe terendah karena menggunakan baterai AA yang mudah ditemukan jikalau
lupa men-charge eneloop X. Sayangnya tak bisa menyimpan gambar dalam format RAW
namun tak menjadi masalah mengingat saya juga tak pandai menggunakan software photoshop tetapi di tipe atas
Fuji HSX bisa merekam dalam RAW.
![]() |
nexie di kompleks pengolahan teh |
Setelah
maghrib menyelimuti kawasan tugu Rimau di ketinggian gunung Dempo, suhu pun
turun terus dan penjaga serta para pedagang disitu hendak menutup usaha mereka.
Malam memang tak ada kegiatan disitu, bisa saja menginap di Mushalla asal kita
bersih dan menghormati rumah Allah itu. Selesai shalat saya menuruni gunung
hingga ketinggian cukup guna mengambil gambar lampu-lampu kota. Dari ketinggian
dan jarak yang jauh, lampu itu terlihat buram disebabkan kabut tipis yang entah
gejala alam musim kemarau atau kabut asap kiriman dari dataran rendah, yang pasti
Palembang disaat yang sama sedang diselimuti kabut asap tebal menebal efek dari
kebakaran hutan.
Selesai
mengambil foto, saya hampiri sebuah villa yang tak jauh dari lokasi memotret
tadi. Tanya-tanya harga mencari info yang mungkin berguna suatu saat kelak.
Villa berbentuk sebuah kamar saja dihargai Rp.150ribu permalam dan itu yang
termurah, di kompleks villa sebelahnya Rp.120ribu namun sedang penuh dan ada
acara. Saya coba tawar Rp.100ribu karena saat itu bukan penghujung minggu dan
sepi dan tidak diperbolehkan. Sebenarnya saya tidak berminat bermalam di villa
karena saya belum lagi melihat kota Pagaralam. Belum mencari kuliner setempat
sebagai sisipan kegiatan.
Akhirnya
memasuki pusat kota Pagaralam, masih cukup ramai di malam yang masih sangat
muda itu. Putar-putar sempat tersasar karena ada jembatan yang ditutup sedang
diperbaiki, diputuskan mengikuti jalan utama saja. Melewati pasar utama
kemudian jalanan mengecil, dari dua lajur dengan median taman menjadi satu
jalur saja. Kebetulan ada sebuah minimart diujung jalan itu, seketika saya
arahkan nexie ke parkiran. Persis disebelahnya ada sebuah rumah makan, RM Dua
Putra. Meski saya mencari sop atau makanan hangat tapi tak ada salahnya mencoba
makan disitu karena saya lihat cukup bersih dan rapih.
Dari keterangan
ibu rumah makan yang ternyata dari Jawa, jawa Lampung tapi, lokasi disekitar
itu disebut Simpang Petani atau juga alun-alun karena diseberangnya memang ada
sebentuk taman besar seperti alun-alun hanya saja di pemukiman di Sumatera
sebenarnya tidak dikenal istilah alun-alun. Pagaralam banyak dihuni pemukim
asal Jawa Tengah dan Timur bahkan di pegunungan dan perkebunan teh lebih dari
90 persen orang Jawa. Pantas dari tadi di Rimau dan di villa semua mengaku
orang Jawa.
Selesai
makan baru saya berbelanja ke minimart yang kasirnya seorang gadis cantik
bernama Asmi. *inilah mengapa di awal sekali saya sebutkan menulis adalah
pekerjaan yang lebih mengerikan dibanding mengendarai motor. Kalau sampai
dibaca istri... lebih parah akibatnya dibanding terserempet bus ALS. Dan saya
tak berani menuliskan lebih lanjut tentang Asmi ini...
Sesuai
petunjuk Asti, saya menuju hotel Mirasa atau hotel satunya lagi tak jauh dari
Mirasa. Tak jadi ke hotel Telaga Biru yang mungkin lebih murah tapi lokasinya
di tengah pasar dan kemungkinan kamarnya kecil-kecil. Untuk melepas kepenatan
diatas jok nexie yang kecil, saya perlu tempat yang cukup nyaman. Kedua hotel
ini terletak di arah menuju Kepahyang atau lurus saja dari Simpang Petani itu.
Karena Mirasa yang pertama kali saya lewati dan terlihat cukup asri, seperti
bungalow maka saya putuskan untuk menginap disitu saja.
Mandi adalah
kegiatan yang pertama saya lakukan di hotel, tak peduli betapa dinginnya air
disitu. Kemudian beristirahat dan mencoba membuka facebook di bb. Sepanjang
jalan dari Merpas hingga tugu Rimau sulit sekali membuka halaman fb karena
minim sinyal 3G dan saya hanya berlangganan paket bb dasar saja. Tapi
notifikasinya terus masuk. Ada sebuah notifikasi dari rekan pengelola kegiatan
wisata arung jeram di Pagaralam dan dari tadi saya penasaran untuk melihatnya.
Oh oh ternyata dia mengundang di kompleks villa di sebelah tempat saya mencari
info. Villa yang penuh dan ada acara tadi. Karena badan sudah cukup lelah,
serta belum hapal jalan disini, akibat berputar-putar tersesat, saya hanya
ingat jalan menuju villa itu cukup jauh memutar ke simpang Manna dulu.
Keesokan
harinya pagi-pagi sekali saya bersiap melanjutkan perjalanan. Etape berikut
adalah etape panjang dan perjalanan per hari juga sangat panjang, melebihi bagian
perjalanan Hari Pertama. Sayangnya hotel Mirasa ternyata cukup pelit dengan
menyediakan sarapan terlalu sedikit porsinya buat pejalan (traveller) yang
menggunakan sepedamotor. Hanya setengah porsi nasi goreng dibanding hotel-hotel
lain, bahkan yang lebih murah tarifnya. Dan segelas plastik kopi encer.
Mungkin
sebaiknya justru tidak menyediakan sarapan sekalian. Tapi mengingat Mirasa juga
sebuah restoran, seharusnya mereka memberikan sarapan dengan ekstra baik agar
citra restorannya ikut terangkat, kemudian dilain waktu sang traveller akan
mencoba makan di restoran Mirasa atau merekomendasikan pada rekan atau
menuliskan dengan baik. *Untuk tulisan dalam versi bahasa Inggris yang akan
dikirimkan ke lonely planet, bagian ini akan saya tiadakan. Yang lebih menyedihkan adalah kopi yang
disediakan dalam gelas plastik, apakah gelas beling terlalu mahal di Pagaralam,
entahlah... Gelas plastik ketika dicuci dengan sabun colek akan menyimpan bau
sabun dan bagi penikmat kopi bau sabun itu sangat mengganggu.
Jam 8 pagi
saya telah bersiap melanjutkan perjalanan. Semua peralatan lenong telah naik
diatas motor. Dan lanjut jalan dengan tujuan pertama adalah menambah sarapan di
rumah makan diluar. Dan RM Dua Putra kembali menjadi pilihan karena inilah yang
pertama saya temukan. Sebetulnya ingin juga mencoba warung kecil penjual
sarapan seperti bubur ayam, lontong sayur atau nasi uduk jika ada. Hanya saja
karena ingin bersegera saya kembali makan di tempat semalam, rasanya cocok dan
murah tidak sebanding dengan tempatnya yang cukup mewah. Kebetulan saya juga
ingin membeli masker di minimart. Perjalanan hari itu akan melalui kota-kota
yang biasanya berdebu, bahkan jika tidak memintas jalan akan melalui jalur
perlintasan truk-truk batubara, sedetik saja berada di belakang truk batubara
maka dijamin semua bagian wajah menghitam hingga kedalam lobang hidung. *kasir
minimart pagi itu ternyata masih gadis cantik semalam.
Selesai
makan saya putuskan untuk kembali melihat-lihat kota. Kali ini tidak tersesat
karena hari terang membuat mudah menerka jalan. Saya menemukan sebuah Rumah
Bari di desa PagarJaya. Rumah ini merupakan bentuk rumah adat khas dataran
tinggi Pasemah serta paling asli menurut keterangan dari pemiliknya, bang
Yunus. Bentuk atapnya mirip rumah gonjong minang hanya gonjongnya lebih tegak
sedikit.
Dilanjut
menuju pabrik pengolahan teh milik PTPN 7. Kemudian mendaki memutar melewati
jalan semalam ketika turun dari Rimau. Dan tembus kembali di Gunung Gare.
Melirik jam, ternyata sudah cukup siang. Sikap tidak disiplin saya ini
berbahaya bagi perjalanan karena di etape 8 menanti sebuah jalur yang rawan
begal. Jika saja saya mengendarai motor yang lebih kencang atau dengan
rombongan lebih dari 3-4 orang tak akan menjadi masalah.
Segera saya
menuju SPBU di dekat simpang Manna, simpang ini disebut demikian karena salah
satu jalannya menuju kota Manna sekian puluh kilometer dibawah sana. Ternyata
pertamax disini habis diakibatkan premium sudah habis juga dari kemarin.
Sedikit menyesal seharusnya saya isi dari kemarin malam. Antrian kendaraan
mengular menunggu premium yang sedang dicurah. Tak mungkin menunggu, saya
lanjut saja Etape 7 dari SPBU itu tanpa mengisi, menurut petugasnya di depan
arah ke Lahat masih ada SPBU tidak terlalu jauh.
| rumah-rumah di Pagaralam |
HARI KETIGA
Etape 7, Pagaralam – Baturaja 170 km; Jam
11.25 – 14.30 dan 15.30 – 16.55
Seharusnya
etape ini dibagi menjadi dua bagian; Pagaralam – Semende Darat Laut dan Semende
DL – Baturaja. Tapi karena saya tak tahu ada apa di Semende maka saya jadikan
satu saja. Sama sekali saya lupa sebagian besar apa yang ada disepanjang jalan
ini, lebih dari 10 tahun lalu pertama dan terakhir melalui jalan pintas
Pagaralam – Baturaja ini. Yang teringat hanyalah air terjun mendekati
penghujung jalan pintas, kemungkinan termasuk wilayah simpang Meo.
Saya sempatkan
berfoto di perbatasan kota Pagaralam arah Lahat yang juga tempat bersejarah
sebagai medan pertempuran antara pasukan republik dengan agresor Belanda.
Kontur alam disitu memang sangat cocok untuk menyergap pasukan agresor yang
jauh lebih baik persenjataannya. Kakek almarhum pernah ikut bertempur disitu
seperti diceritakan ayah.
Dan setelah
kecewa karena pertamax juga habis di SPBU Pagaralam yang kedua serta antrian
premium demikian panjang. Saya beli eceran Pertamini 2 liter Rp.16.000 dan
berharap cukup hingga tiba di Jalinsum (tengah) nanti. Dan tak lama saya
menemukan kembali jalan mirip di perbatasan kota tadi. Serta menemukan relief
penyambutan, nampaknya batas kota telah digeser hingga di jembatan dekat
persimpangan ke Baturaja.
Kemudian
tibalah di simpang Tebat (kalau tidak salah, CMIIW) dan saya berbelok ke kanan
memasuki jalan yang jauh lebih kecil dibanding jalan Pagaralam – Lahat. Ada
papan petunjuk bahwa jalan yang saya pilih adalah arah Baturaja. Dan terus saja
saya ikuti jalan yang masih berada di wilayah kabupaten Lahat. Ternyata ada
sebuah desa bernama Kota Agung disitu. Setelah melalui perkebunan tanpa
pemukiman beberapa kilometer tibalah di kecamatan Semende Darat Laut.
Sepertinya ada perubahan, seingat saya dulu hanya bernama Semendo dan kini ada
tambahan Darat Laut, mungkin ini kecamatan pemekaran.
Perjalanan
yang saya kira dekat saja, bisa tembus dalam 1 jam ke simpangMeo, ternyata
cukup jauh. Setelah memasuki ibukota kecamatan Semende saya lihat ada papan
petunjuk jalan mengarah kepada dua buah lagi kecamatan yang membawa nama
Semende, artinya ada 3 atau bahkan 4 kecamatan Semende kini, sebentar lagi jadi
kabupaten pasti. Suku Semende ini suka mengembara, menghuni bukit-bukit yang
tidak ditempati suku-suku asli lain.
| pemandangan disekitar perbatasan MuaraEnim dengan Lahat |
Di propinsi
Lampung banyak sekali perkampungan orang Semende, yang cukup terkenal dan telah
menjadi kota kecil adalah Bukit Kemuning. Bahkan hingga ke ujung Selatan
Lampung, di dekat rumah saya menjelang Bakauheni ada desa yang dihuni oleh suku
Semende. Di Bengkulu juga banyak sekali, apalagi di wilayah kabupaten Kaur yang
berbatasan dengan wilayah suku Semende yang termasuk di Kabupaten OKU Selatan.
Andai semua entitas suku Semende pulang ke wilayah asalnya maka Semende bisa
jadi lebih besar dari kabupaten induknya, Muara Enim.
Saya sengaja
melewati pasar Semende tanpa istirahat, dari perbatasan Pagaralam tadi hanya
berhenti untuk ambil beberapa foto saja tanpa minum apapun. Mungkin cukup lama
juga saya berhenti memotret, bahkan sempat memasuki kebun yang mirip dengan tebing
kraton yang sedang tren di Bandung, tepatnya di perbatasan kabupaten Lahat
dengan Muara Enim. Yang saya incar guna beristirahat adalah air terjun. Jam
sudah menunjukan pukul 13.45 di pasar Semende.
Ternyata
setelah menikung ratusan kali menempuh belasan kilometer dari pasar Semende, tak
jua sampai di penampakan air terjun yang saya lihat dulu, saat melirik ke fuel
meter ternyata merunduk ke E. Segera isikan 1 liter begitu menemukan sebuah
kios bensin. Ternyata kios itu juga sebuah warung makan dengan judul Ponorogo.
Saya coba melihat kedalam tapi tidak tertarik untuk makan disitu, suram apalagi
masih full perut inisetelah sarapan setengah porsi dan sarapan siang sebagai
tambahan. Ternyata bensin eceran disitu bernilai Rp.10.000 dengan bonus 4 buah
permen, uang 20ribuan dikembalikan 10ribu dengan 4 buah permen.
Setelah
beberapa kilometer kemudian nampak sebuah jurang tinggi yang jelas terlihat
dasarnya adalah sebuah lembah permai. Sekalian berisitirahat sejenak akibat
terlalu lelah menikung dengan gaya pembalap road
race. Entah berapa ratus bahkan ribu tikungan sejak dari Pagaralam tadi
memacu nexie di kecepatan maksimal yang aman, demi membelah pegunungan dan
perbukitan Sumatera Selatan secepat mungkin. Diatas lembah saya ambil foto,
tidak terlalu bagus jika nampak difoto meski dengan sudut terlebar. Sesaat
kemudian saya lanjutkan mengejar point of interest yang telah ditetapkan
sebelum perjalanan dimulai. Tidak sampai satu kilometer rasanya, seketika
nampak dikejauhan, di dinding lembah yang berhadapan, sebuah air terjun ganda.
Ternyata di lembah ini letaknya. Saya berhenti lagi untuk memotret sekalian
melihat situasi jalan menuju air terjun itu. Saya tidak sempat melihat jam,
tapi dari exif kamera terlihat saat itu jam 14.15. Hanya merasakan saat itu telah
demikian sore.
Nampaknya
ada jalan dibawah, karena jalan ini terus menurun. Benar saja tak jauh dari
tempat memotret tadi, ada sebuah jembatan dan diseberangnya terdapat
persimpangan. Sebuah papan petunjuk menuliskan “Air Terjun Curup Tenang >
1km”. Langsung saja belok masuk persimpangan itu. Loh... ternyata desa itu
bernama Indramayu, kecamatan Bedegung kabupaten Muara Enim.
Air terjun
ini sudah menjadi obyek wisata yang cukup baik. Berbagai fasilitas tersedia
cukup lengkap, bahkan beberapa kolam pemancingan juga ada. Sayangnya tarif
masuk yang dikenakan cukup tinggi, Rp.5000 untuk orang dan Rp.10.000 untuk
motor. Parkir motor yang aman adalah didepan di dekat pos penjagaan, meski
sebenarnya bisa menggunakan motor lebih mendekati tapi menurut penjaganya,
parkiran di dalam tak ada yang memperhatikan apalagi motor saya ada tas samping
yang tak saya lepaskan disitu.
Rencananya
istirahat malah jadi berolahraga. Air terjun harus dihampiri dengan berjalan
kaki lumayan jauh. Terpaksa jaket yang masih terpakai saya lepaskan karena
cucuran keringat. Sesampainya di warung terdekat dengan air terjun saya memesan
teh dalam kemasan dengan es. Selesai mengambil beberapa foto, karena saya tak
pandai menjalankan photoshop maka harus ambil gambar dengan berbagai setting-an
serta kemudian memilih hasil terbaik.
Hampir satu
jam di air terjun Curup Tenang, curup berarti air terjun dalam bahasa setempat,
mirip sebutan di JawaBarat: curug. Jam terus berdetak padahal saya harus segera
melintasi daerah yang terkenal rawan begal dalam perjalanan hari ini.
Kemungkinan bisa menembus hingga Bandarjaya sebelum terlalu malam masih ada.
Tapi semua asumsi hanya berdasar ingatan yang sudah banyak terkikis selama
belasan tahun.
Tanpa
membuang waktu lagi saya lajukan nexie hingga dalam beberapa menit telah
melampaui simpang Meo. Ingatan memang tak selamanya benar, saya mengira cukup
beberapa menit saja dari simpang Meo ke Baturaja. Hampir 1 jam menaklukan
Jalinsum yang lebar untuk mencapai jarak 56km. Sempat pula terpaksa menambah
bensin eceran lagi di Singapura, sebuah nama desa yang unik. Sayangnya karena
terburu-buru tak sempat memotret plang di depan kantor desa itu.
Jalanan
menuju Baturaja mengikuti alur sungai yang dipenuhi riam kecil dan ringan.
Sepanjang sungai banyak sekali yang sedang bermain air, bukan mandi. Mereka
menggunakan ban dalam bekas traktor selebar 1,5 meter lebih bermain arung
jeram. Seru juga seandainya punya waktu lebih mencicipi berenang di sungai yang
terlihat masih bening. Akhirnya menemukan SPBU lagi dan pertamax disediakan
disini. Saya isikan tangki nexie penuh-penuh.
Baru
menjelang pukul 17 saya tiba di pasar Baturaja. Saya tidak memilih jalan by
pass karena ingin melihat pusat kota, mencari jajanan yang jarang ditemui atau
jika ada, jajanan khas. Masih belum terasa lapar tapi memang perut perlu diisi
makanan sedikit. Ketika melintas di depan sebuah hotel, terlihat warung pempek
dan es kacang. Segera saya hentikan nexie. Dan berakhirlah etape 7 tepat jam 16.55
disitu.
Etape 8, Baturaja – Bandarjaya 214km; Jam
17.25 – 20.00 dan 7.10 – 9.10
Seharusnya
ini dibagi 2 juga, Baturaja – Baradatu dan Baradatu – Bandarjaya.
Istirahat di
pusat kota Baturaja, saya pesan es kacang merah dan 2 pempek ada’an. Es-nya
enak, kacangnya al dente, tidak terlalu lembut tapi juga tidak keras dan saya
minta ditambahkan tape singkong. Ada’an adalah salah satu jenis pempek,
bentuknya bulat seperti baso dan di warung itu rasanya cukup enak. Selesai
membayar Rp.11.000 untuk es dan 2 bulatan adaan, tanpa buang waktu saya
lanjutkan perjalanan etape 8. Saya sadar bahwa kecil kemungkinan bisa menembus
hingga Bandarjaya dibawah jam 8 malam.
Setidaknya
bisa mencapai Baradatu atau Bukit Kemuning adalah target maksimal. Saat keluar
dari batas kota Baturaja sudah menunjukan jam 17.35. Dan pas adzan Maghrib sedang
melintas di Martapura. Nexie terus saja saya pacu bak kesetanan, hingga ada
pengendara motor laki tipe racing yang mengira saya ingin mengajaknya balapan.
Tentu saja di bagian jalan yang lurus dengan mudah ia melewati saya. Tapi saat stuck di belakang truk atau bus saya
salip lagi, juga ketika ia mengendurkan gas di tikungan langsung bisa tertempel
kadang tersalip.
Sebetulnya
bukan ingin membalap tapi memanfaatkan sisa-sisa cahaya matahari agar mencapai
jarak sejauh mungkin. Bila hari telah gelap, mata saya sulit melihat dengan
baik karena lampu standar terbilang redup. Kemudian pandangan juga terbatas
pada area yang tersorot lampu. Padahal saya biasa memandang luas jalan di depan
hingga bahu dan jejeran bangunan. Segala hal saya antisipasi, misal seorang
anak tergesa keluar dari rumah di jarak 100 meter ke depan sudah menjadi
peringatan bagi saya.
| malam di jalinsum |
Akhirnya
gelap tak dapat ditolak, beberapa belas kilometer dari perbatasan SumSel –
Lampung suasana sekitar sudah membiru tua sangat. Tak jauh dari Martapura
adalah perbatasan kedua propinsi. Kini saya telah memasuki Lampung lagi. Tapi
wilayah kabupaten Way Kanan itu juga bukan daerah aman bagi motor sendirian.
Jam sekitar Maghrib juga waktu favorit para kriminil ini beraksi. Modal yakin
saja, saya lanjutkan perjalanan karena antara Martapura hingga menjelang
Baradatu nanti terbilang daerah yang kosong tanpa pemukiman di sisinya, sebuah
daerah yang tepat untuk membegal. Meski mata hampir tak melihat apapun selain
bagian yang tersorot lampu, gas nexie masih saya tahan tinggi tapi tidak
mentok. Sengaja saya sisakan gas jika ada penampakan mencurigakan di spion bisa
saya hentak gas sembari melakukan gerakan preventif.
Dan
tiba-tiba ada sebuah lampu motor nampak di spion, semakin mendekat dan semakin
dekat. Dada bergemuruh tak tentu, tangan bergetar dan terasa dingin, disusul
sebuah lampu lagi. Pastilah ini mereka, sang penguasa jalan, pikir saya. Tak
terasa gas semakin saya tarik. Beberapa kali terantuk gelombang dan lobang
kecil jalanan membuat badan terbanting tapi stang saya pegang dengan erat,
sempat geal-geol juga karena
gelombang berikut lobang berturutan dilindas roda-roda nexie.
Tapi
nampaknya itu lampu dari motor sport yang semakin dekat di bagian jalan lurus
dan terlihat menjauh saat memasuki tikungan. “begal pemula nih, nggak berani
nikung cepat” pikir saya. Harus memanfaatkan advantage tikungan. Jika nanti di depan tikungan ada sebuah rumah,
atau bangunan apapun yang nampak berpenghuni harus segera saya masuki,
berpura-pura sudah sampai di tujuan.
Tapi sisi jalan
senantiasa kosong, kalaupun ada rumah tapi gelap tak berlampu. Jantung saya
sudah berdegup kencang, terpikir untuk menyerah saja, yang penting hidup. Dan
ketika jalan lurus cukup panjang, motor itu telah berada di samping. Saya
hentak gas sekaligus dan sempat melaju lebih 1 ban tapi motor sport full
fairing bermesin tanggung keluaran terbaru dari pabrik berlogo sayap tentu
bukan tandingan buat nex.
Biasanya
begal mensejajarkan kemudian pemboncengnya mencabut senjata api menodong
memaksa kita berhenti. Atau jika ternyata mereka bukan pemilik senjata api,
bisa lebih parah karena main sabet tongkat/rante/golok agar korban terjatuh.
Salah satu kiat menolak bala adalah usahakan tetap berkecapatan tinggi, mereka
juga tidak terlalu tolol untuk menyabet dalam kecepatan tinggi karena jika
terjatuh, motor buruan mereka juga bubar berantakan. Aneh motor ini malah
menyalip saja dan sendirian pula malah kasih klakson...
O... oh
ternyata itu motor yang tadi merasa balapan dengan saya dari Martapura. Legaaaaa
rasanya. Dan sebagai solidaritas, saya ikuti dia tanpa saya coba susul lagi.
Akhirnya malah menjadi teman seperjalanan. Wah jika berdua begini saya berani
langsung ke Bandarjaya, tapi melihat setelan pakaian pengendara CBR dia adalah
orang dekat, mungkin hanya sampai Baradatu.
Karena itu,
saat didepan terlihat neonsign sebuah minmart saya salip dia dan kasih kode
mengajak dia mampir. Kami sudah berjalan tak terlalu kencang lagi sejak insiden
klakson tadi. Nampaknya ia mengangguk. Dan segera nexie saya arahkan ke
minimart. Saat memarkirkan motor saya lihat, pengendara CBR tidak ke minimart
tapi ke rumah disebelahnya. Tak lama dia keluar dengan masih memakai jaketnya.
“Mau kemana, bang?” ujarnya sembari terus mendekat memperhatikan nexie;
belum sempat saya jawab, ia melanjutkan “waah... saya kira ini ep-yu lho, bang!” nampak wajahnya sedikit keheranan. Saya tentu saja angkat kerah sembari menegakkan badan *becanda lho, sebenarnya saya tersipu malu karena sempat mengira orang yang ternyata ramah ini adalah begal.
“Mau pulang ke Bakau. Ya ini ef-yu matik” ujar saya sambil tersenyum menjawab sekaligus.
“ke Bakauheni, bang?? Wah masih jauh banget itu”, “kurang aman jalan di depan, lebih baik menginap saja dulu bang” lanjutnya. “Atau menginap di rumah saya tapi di Martapura, kita balik lagi nanti jam 9an”.
“waduh, terimakasih banyak, memang lagi cari penginapan kok ini tapi ya nggak usah pake balik lagi, disini ada kan, hotel”, “tadinya saya kira mau ke Bandarlampung, mungkin bisa barengan kita” saya menyaut serta lanjut menceritakan bahwa sempat mengira ia begal tadi, makanya tancap gas. Sekalian menerangkan bukan mengajak balapan. Ia memaklumi dan menebak juga bahwa saya pasti mengira dirinya begal.
Lantas ia
menceritakan sedang ada urusan disitu, nampaknya ngapel karena tak lama seorang gadis manis muncul dari sebelah dan
mengatakan kopinya sudah siap. Ia pun mengajak saya masuk ke sebelah untuk
minum kopi. Sebetulnya saya lapar, belum makan sejak sarapan siang tadi tapi
demi menghormati saya ikut juga. Sembari jalan ia mengenalkan diri, Iman
demikian pula saya menyebutkan nama.
Sambil minum
kopi, Iman berulang-ulang menyatakan kekagumannya dengan si FU matik. Iman juga
menyatakan bahwa ia berasal tidak jauh dari Bakauheni, tepatnya di Palas
Sukamulya. Wah ini namanya ketemu orang sekampung. Palas tidak jauh dari rumah
saya dan saya tahu bahwa Sukamulya dihuni oleh pemukim asal Tasikmalaya.
Langsung saja saya praktekan bahasa sunda. Obrolan menjadi semakin akrab. Dan
Iman semakin kaget mengetahui saya baru saja dari Pagaralam dan semakin kaget
mengetahui bahwa melalui Bengkulu untuk ke Pagaralam dan baru pulang via
Jalinsum, “wanian euy si akang teh, meuni sorangan deui” begitu kira-kira
ungkapannya.
Tak terasa
sudah jam 19.30, saya segera pamit untuk meneruskan perjalanan. Iman berkeras
mengajak menginap di Martapura, sebenarnya di jalan antara Martapura dengan
Baturaja. Terlalu jauh jika musti balik lagi kesana. Dan ternyata juga, Iman adalah
karyawan RM Siang Malam yang kini ditempatkan di cabang Baturaja. Sebelumnya memulai
sebagai asistant of chef di Siang Malam didekat rumah kami. Dunia tak selebar
daun kelor tapi daun kelor bisa selebar dunia juga...
Dan saya
lanjut menarik gas dengan pesan agar berhati-hati, berulang-ulang dari Iman dan
tunangannya. Saya menyadari tidak mungkin juga untuk terus-terusan membiarkan
jantung berdetak kencang mengira-ngira begal. Kalaupun selamat dari tindak
kriminil, bisa jadi stroke saya kambuh di Bandarjaya.
Baradatu
ternyata sedang dilanda pemadaman listrik bergilir, pantas gelap semua dari
tadi. Karena gelap pula beberapa penginapan di Baradatu tak terlihat oleh mata
rabun ini. Akhirnya saya terus saja hingga Bukit Kemuning. Ada penginapan juga
disitu, pasti. Bukit Kemuning jauh lebih besar dari Baradatu, kota persimpangan
dan tempat istirahat kendaraan umum sejak jaman dahulu kala. Hanya dibutuhkan
waktu kurang lebih 30 menit dari Baradatu untuk tiba di Bukit.
Sekitar jam
20.00 saya masuk penginapan Murni, ditengah keramaian pasar Bukit Kemuning
sebelum pertigaan besar dari arah Utara. Mengambil kamar seharga Rp.75.000,- .
Saya memesan kopi dan menanyakan makanan, ternyata tidak bisa memesan apapun di
penginapan itu. Sekedar air panas segelas juga tak bisa padahal saya punya kopi
dan energen sachet. Terpaksalah saya keluar mencari makanan di warung seberang.
Setelah kembali ke hotel, saya mandi dimana ruang mandi berada diluar kamar,
tepatnya satu di lantai bawah kamar.
Selesai
mandi saya cek sosmed di internet melalui smartphone, kemudian terlelap. Subuh
saya terbangun, kamar hotel ditengah pasar ini kecil sekali, tak memungkinkan
menggelar sajadah. Segera saya keluar mencari kopi dan sayangnya penjual kopi
cukup jauh di bagian lain pasar. Dan kebetulan melalui sebuah Mesjid maka saya
sempatkan Subuh-an.
Sembari ngupi saya unggah ke sosmed foto suasana
subuh di Bukit Kemuning. Sekembali dari warung kopi, saya bersiap, mandi.
Kemudian melanjutkan perjalanan. Jam
7.10 pagi start dari hotel Murni yang pelit itu. Andai tak kuatir begal, andai
berombongan dengan 1-2 orang lagi saya yakin tadi malam pasti lanjut. Dan
menjelang subuh kemungkinan besar bisa sampai kembali di rumah di Bakauheni.
![]() |
| subuh di Bukit Kemuning |
Hal penting
dalam melintasi daerah rawan begal adalah bergerak secepat mungkin seperti saya
sebut diatas. Dan atur rombongan untuk selalu berjarak rapat. Motor dengan
pengendara paling besar tubuhnya atau paling berani berada paling belakang.
Nomor dua dari belakang adalah motor dengan pengendara paling cepat. Jarak
antar motor jangan lebih dari 10 meter, hal ini diperlukan latihan untuk
menjaga jarak dalam kecepatan tinggi. Pengertian antar pengendara juga perlu
dibahas sebelumnya agar semakin saling memaklumi. Jika membawa tripod lebih
baik lagi diikat di tubuh sebagai penghalang sabetan senjata begal. Memungut bambu
atau kayu sebelum melintas serta membawanya dengan diikat diselempangkan juga
tindakan yang tidak buruk.
Perkiraan
saya bisa tembus dalam 2 jam hingga Bandarjaya dari Bukit Kemuning. Dan dari
Bandarjaya sekitar 3-4 jam sampai Bakauheni. Perkiraan ini ditunjang dengan
mulus dan lebarnya Jalinsum. Tak meleset perhitungan jam 9 sudah melewati
Jembatan Terbanggi Besar. Dan saya sudah berjanji akan bertemu dengan sahabat
yang saya kenal melalui sebuah forum bersepedamotor di Bandarjaya sekitar jam 9
pagi ini.
Jam 9.10
saya menamatkan etape ini didepan Mesjid Agung Bandarjaya. Karena parkiran
motor di depan Mesjid terasa terik tersorot matahari dan sangat kebetulan saya
juga belum sarapan kecuali beberapa potong roti saat ngopi subuh tadi, saya
geser ke RM Minang Indah. Seingat saya baru kedua kali nya saya makan di
restoran Padang dalam perjalanan kali ini, setelah pertama di Krui.
Lebih dari 1
jam saya menunggu sohib yang berjanji menemui di Mesjid Agung Bandarjaya. Tapi
bulu hidungnya satupun tidak terbawa angin ke lokasi rendevouz, apalagi batang
hidungnya ternampak...
Etape 9, Bandarjaya – rumah di Penengahan
LamSel 131km atau jika ke Bakauheni 151 km.
Tak banyak
yang bisa saya tulis di etape ini karena sudah tidak mencatat apapun lagi. Bahkan
saat mengisi kembali bensin saya lupa dimana dan berapa. Ini sudah etape
euforia bakal sampai dalam hitungan jam. Beberapa kilometer lagi sudah memasuki
kabupaten tempat saya tinggal meski dari batas kabupaten masih 90an kilometer
baru tiba di rumah. Yang tercatat hanyalah jam keberangkatan dari Bandarjaya, 10.35 pagi.
Etape ini
saya cukup menceritakan mengenai daerah Bandarjaya yang menjadi besar karena
merupakan tempat istirahat berbagai angkutan umum. Bukit Kemuning masih
terhitung rawan sehingga kendaraan besar pengangkut barang hanya sekedar
berhenti makan atau minum kopi saja karena disitu juga pusat perkulakan kopi
terbesar di Lampung. Sementara di Bandarjaya kendaraan bisa istirahat dan parkir
bermalam tanpa gangguan. Dua Jalan Lintas Sumatera masih melalui Bandarjaya,
Jalinsum dan Jalintim. Jalinbar masih sepi dari truk karena beberapa
tanjakan/turunannya terkenal ekstrim. Meski ke Bengkulu atau Padang jauh lebih
dekat melalui Jalinbar, truk bermuatan penuh berlebih akan tetap memilih
Jalinsum menuju kedua ibukota Propinsi itu.
Setelah
Bandarjaya adalah GunungSugih yang merupakan ibukota kabupaten Lampung Tengah,
hanya sebuah desa yang mendadak jadi kota beberapa belas tahun lalu karena
menjadi lokasi perkantoran pemkab. Awalnya pusat pemerintahan LamTeng adalah di
Kota Metro, sejak ditetapkan sebagai Kotapraja dengan Walikota dan administrasi
sendiri, ibukota digeser ke GunungSugih. Metro tidak terletak di Jalan Lintas
yang manapun, kota ini merupakan pusat pemukiman transmigran kedua setelah
Gedong Tataan re: Pringsewu. Tapi karena datarannya lebih luas dan rata, lebih
banyak transmigran yang dikirimkan kesitu. Seperti juga di Pringsewu, di kota
ini seperti berada di Jawa saja, bedanya dengan Pringsewu, masih banyak orang
asli Lampung Tengah bertempat tinggal disini mengingat dahulu adalah pusat pemeritahan
kabupaten.
Saya hanya
melewati persimpangan menuju Metro dan tidak masuk kedalam kota yang berjarak
sekitar 30km dari Jalinsum. Persimpangan menuju Metro sudah terletak di kab
Pesawaran yang beberapa tahun lalu masih Lampung Selatan. Tak jauh dari situ
sudah memasuki Lampung Selatan kembali, tandanya adalah Pelud Radin Inten II di
Branti. Melewati Natar dan terus memasuki wilayah ibukota propinsi Lampung,
Bandarlampung.
Saya sempat
melihat odometer yang menunjukan angka 5600 km lebih, sudah waktunya melakukan
perawatan buat si nexie. Jadwal servis gratis yang ketiga terlampaui, daripada
saya pulang dan kembali ke Bandarlampung esoknya, saya arahkan nexie menuju
pusat pelayanan Suzuki. Salah satu yang saya sesalkan adalah Suzuki menutup
pusat pelayanannya di Kalianda, kota kabupaten di dekat rumah saya.
| @ Suzuki Centre, Bandarlampung |
Setelah
singgah di rumah keluarga dari istri, tempat istri menginap selama saya tinggal
ke Pagaralam, nexie saya arahkan menuju Bakauheni. Sementara istri dan anak
serta supir yang sudah diminta untuk menjemput dengan R4 menyusul dibelakang.
Saya sempatkan makan mi sebagai makan siang yang kesorean di kota Kalianda. Mie
pangsit Ade Wongso ini saya rasakan sebagai mie yang paling enak dan pas dengan
anggaran yang memang sudah tipis, kalau tidak salah tersisa Rp.20.000
sesampainya di rumah. Artinya saya tidak sampai mengganggu duit SHU yang saya
ambil dari PLS, Merpas.
_________________________________
* Sekedar mengingatkan, Jalinsum = Jalan Lintas Sumatera
adalah jalan yang pertama ada melintasi
Sumatera dari Lampung (Bakauheni) hingga Banda Aceh, biasa juga disebut
Jalinteng.
Jalinbar = Jalan Lintas Barat, hitungannya berawal dari
Bandarlampung ke arah KotaAgung dan terus hingga bertemu Jalinsum di Padang
Panjang, Sumbar.
Jalintim = Jalan Lintas Timur berawal dari Terbanggi,
Bandarjaya hingga Medan, Jalinpantim
Lampung adalah sambungan Jalintim dari Bakauheni hingga bertemu Jalintim
di Menggala.
Demikian
catatan perjalanan ini, semoga bisa sedikit membantu bagi yang merencanakan
berpetualang 3-4 hari di Sumatera.
Bagi yang dari Palembang saya menyarankan rute: Palembang-Baturaja-Muaradua-Liwa-Krui-Merpas,
450an km dan kembali melalui rute Merpas-Manna-Pagaralam-Lahat-Palembang dengan
jarak yang hampir sama 450an kilometer juga. Seperti tertera di Peta Rute> Palembang-Muaradua-PLS-Pagaralam-Palembang
Langganan:
Postingan (Atom)





